Bacalah di Kala Engkau Patah Hati

Kemarin ada temen yang cerita ke mustphar kalau dia lagi patah hati. Mustphar bilang “Berarti kamu perlu baca artikelku”. “Mana artikelmu must?” tannyanya kemudian. “Belum aku tulis” jawab mustphar sekenanya. Karena itulah mustphar punya hutang nulis artikel lagi setelah sekian lama menelantarkan blognya.

Mustphar yang belum begitu berpengalaman dengan masalah patah hati mencoba bertanya pada ahlinya. Kebetulan ada mb pi teman mustphar di Humas yang baru dipromosikan sebagai Staf Ahli Patah Hati, meninggalkan jabatannya yang lama – Staf Ahli Gosip. Dengan berpura-pura (sebetulnya beneran) lagi patah hati, mustphar meminta nasehat dari sang staf ahli. Berikut petikan wawancara mustphar dengan Staf Ahli Patah Hati.

Mb pi, berapa lama waktu yang dibutuhkan seseorang yang patah hati untuk dapat kembali seperti semula?

Hahaha… relatif must. Nek aku yo must, dulu pas jaman patah hati gara-gara  **** –sensor– kae hampir dua tahun lho aku baru mau buka hati buat cowok laen… :p Nek kowe yo kira-kira 5 tahunlah must… haha

Apa yang bisa dilakukan seseorang yang patah hati untuk menghibur diri mungkin atau pun melupakan patah hatinya?

Cari pelarian… :p

Ada nggak obat untuk menyembuhkan patah hati? Menurut anda apa obat yang paling mujarab untuk menyembuhkan patah hati selain baygon dan racun tikus?

Cinta… Obat untuk semua penyakit adalah cinta.

Kalau cinta menurut anda adalah obatnya, mungkin nggak seseorang yang baru patah hati dapat segera jatuh cinta lagi padahal anda sendiri tadi mengaku butuh waktu 2 tahun untuk dapat menerima seorang cowok (yang khilaf) lagi?

Hehehe… Cinta gak harus dari pacar kan must? Cinta sahabat, cinta keluarga, cinta Tuhan…

Menurut Anda perlu nggak kita melupakan seseorang yang telah bikin kita sakit hati dari kehidupan kita?

Melupakan? Kenapa mesti dilupakan? Gak bakalan iso must… malah tambah menyakiti diri sendiri… Karena bagaimanapun dia akan tetap ada di dekat kita. Sebenere kuncinya cuma 1, ikhlas… Kalau kita dah bisa bener-bener ikhlas dan sadar kalau dia bukan milik kita (lagi)… kita bisa lebih tenang dan buka hati untuk orang laen. :)

Satu lagi pertanyaan nggak penting ini mb, apa ciri-ciri orang yang lagi patah hati dilihat dari luar, penampilan mungkin atau sikap yang laen?

Opo ya? Aku ya gak ngerti pastilah nek wong gek patah hati koyo opo… Paling-paling ya mata bengkak, gak bersemangat, males-malesan, trus sok bikin perubahan (mis: potong rambut). Itu sing aku lihat soko kowe, hahahahaha….

Patah hati? Enggak banget gitu loh! Begitu orang ingin bilang. Patah hati? Sungguh sangat menyedihkan. Hidup segan mati pun mau. Begitu pepatah bilang. Seandainya ada kata yang lebih menyedihkan dari kata patah hati. Seandainya saja ada sakit yang lebih menyakitkan dari pada sakit hati. Dan seandainya saja ada mati yang lebih mengerikan daripada bunuh diri. Dan seandainya saja matahari tak lagi terbit esok pagi. Dan seandainya saja bumi ini tak mampu berputar lagi. Dan seandainya saja semua kehidupan berakhir di hari ini.

Tapi tunggu dulu. Kayaknya nggak segitunya kale. Patah hati? Biasa banget gitu loh! Begitu mb pi bilang. Ya mungkin bagi dia sich sudah biasa. Staf ahli gitu loh. Walaupun dia pernah mengaku hampir dua tahunan untuk mampu hidup kembali – halah, apa sich istilahnya—ketika baru pertama kali patah hati. Tapi berikutnya dia tidak pernah menganggap patah hati itu sebagai sesuatu yang hebat untuk dibanggakan. Jadi kalau dia patah hati lagi dia akan segera membuang jauh-jauh – saking jauhnya sampai melintasi tiga dimensi waktu: WIBB, WIBTA, dan WIBT—hatinya yang patah tersebut dan mencari lagi hati yang baru sebagai penggantinya. Maka penulis berpesan: Hati-hatilah bagi yang punya hati!

Anda jangan berbangga dulu kalau anda pernah patah hati. Ternyata sakit hati itu tidak seberapa bila dibandingkan dengan sakit gigi. Anda tidak percaya? Silakan buktikan. Bagi yang hobi mematahkan hati, Anda pun jangan berbangga dahulu. Tenyata mematahkan hati tak seberapa sulit bila dibandingkan dengan mematahkan gigi. Begitu juga dengan makan hati ataupun main hati, tak terlalu istimewa bila dibandingkan dengan makan gigi atau pun main gigi.

Eh, tadi ngomongin apa sich? Kok jadi ngelantur sampai di sini? Ooo… teman kita (yang lagi baca tulisan ini) lagi patah hati. Apa yang bisa aku lakukan untukmu kawan? Yang mungkin sedikit bisa melupakan kesedihanmu. Yang mungkin sedikit bisa mengurangi rasa sakitmu. Bagilah pedihmu kawan? Ceritakanlah padaku apa yang kamu rasakan. Katamu, rasanya sakit sekali. Iya aku tahu kawan. Katamu, sakitnya lebih dari itu, sakiiiiit… sakiiiit sekali. Iya aku tahu apa yang kamu rasakan kawan, karena aku pun pernah merasakan seperti apa yang kamu rasakan saat ini.

Katamu sakitnya setengah mati. Iya kawan, aku tahu, tapi jangan pernah berpikir ingin mati gara-gara ini. Mungkin rasa sakitmu sperti tak terobati. Namun mati pun tak kan bisa mengobati. Tak ada rasa yang lebih sakit dari pada saat meregang nyawa kawan. Sekali pun kawan, jangan pernah berpikir ingin mati. Jangan kawan. Aku beri satu alasan kawan, yang mungkin bisa engkau jadikan alasan untuk tetap bertahan hidup. “Karena, kita tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi di esok hari”.

Kawan, Tuhan merahasiakan semuanya agar kita terus berusaha. Kita tidak pernah tau apa yang akan kita dapati di esok hari. Boleh jadi esok engkau sangat bersyukur apa yang telah terjadi di hari ini. Boleh jadi esok engkau merasa lebih berutung karena ia meninggalkanmu di hari ini. Dan boleh jadi esok engkau mendapati yang jauh lebih baik daripada yang telah hilang di hari ini. Dan Kita tidak pernah tahu kawan. Maka jangan sesali apa yang terjadi. Jangan pernah menyerah untuk terus berusaha.

Kawan, tidak ada yang melarangmu untuk bersedih. Namun, jangan terlalu larut dalam kesedihan. Tidak ada yang melarangmu untuk menangis. Mengislah kawan, jika itu bisa membuatmu merasa lebih baik. Namun, janganlah engkau bawa tangismu hingga pagi hari. Aku yakin engkau akan baik-baik saja. Aku yakin semuanya akan baik-baik saja. Dan aku yakin engkau mampu bertahan menghadapi cobaan ini.

Kawan, jika kita boleh memilih, kita tidak pernah ingin merasakan semunya ini. Tapi ketahuilah kawan, apa pun yang diberikan-Nya tak pernah ada yang sia-sia. Manis akan lebih terasa manis setelah kita mengecap yang pahit. Emas tidak akan menjadi murni 24 karat sebelum dibakar dengan suhu tinggi dalam beberapa lama. Kita tidak pernah tahu kawan apa yang terbaik bagi kita.

Sudahlah kawan, tak usah engkau pertanyakan lagi. Kenapa dia meninggalkanmu? Tidak ada yang salah dengan dirimu kawan, juga tidak ada yang salah dengan dirinya. Ini bukanlah akhir dari segalanya kawan. Inilah awal dari segalanya. Nanti engkau juga akan tahu jawabannya sendiri kawan. Setelah engkau mampu bangkit lagi. Setelah engkau bisa tertawa lagi. Saat itu engkau bertanya kawan, kenapa dulu dia meninggalkanku? Iya, karena engkau akan memperoleh yang lebih baik dari dia. Karena engkau akan mendapat yang lebih indah dari yang diberikannya.

Kawan, janganlah engkau merasa sendiri karena ditinggalkannya. Engkau masih punya sahabat, masih punya keluarga yang akan selalu di sisimu. Kalau pun semua sahabat dan keluargamu telah meninggalkanmu, masih ada aku kawan. Aku masih di sini menemanimu. Dan jika aku pun harus meninggalkanmu, janganlah engkau lupa kawan bahwa Tuhan selalu bersamamu kapan pun itu.

Kawan, tersenyumlah. Lihatlah dirimu. Engkau punya segalanya kawan. Engkau bisa melakukan apa yang engkau inginkan. Engkau bisa lebih hebat dari yang engkau pikirkan. Bahkan, aku pun iri kepadamu. Kawan, bangkitlah dari keterpurukanmu. Tunjukkan pada dirinya kalau engkau tak selemah itu. Tunjukkan bahwa engkau bisa menjadi lebih baik, walau tanpa dirinya. Berikanlah isyarat padanya “Terima kasih telah meninggalkan aku”.

Kawan, terakhir kusertakan kiriman puisi dari kawan siko yang sengaja diciptakannya untuk dirimu seorang:

Ketika purnama tak tampak, temani hati berteriak.

Termenung ku sejenak, sendu aku menulis sajak.

Dalam gelap ku tetap berharap,

Sampai tangis ku bawa lelap

Kutatap tembok putih kamarku,

Seakan acuh menatap pilu.

Tetap kusimpan puing-puing cintamu,

Temani sendiri dalam sunyiku.

Biarkan saja taman-taman poranda atas polah.

Aku lelah, badanku letih dan merebah.

Tak peduli lagi dengan sudah.

Tetap tersenyum meski pasrah.

Dengan nada suara hati,

Kukirim sebuah pesan,

Kurangkai bunga-bunga cinta,

Katakana padanya ‘semoga kau bahagia’.

(shining phoenix)

Tolong Aku (The Rain)

Tolong aku sahabatku
Dengarkan jerit hatiku
Tentang dia, tentang dia, masih slalu tentang dia

Ajak aku bersamamu
Kemanapun engkau mau
Tenangkan aku, tenangkan aku, sabarlah tenangkan aku

Dia pernah membuatku merasa sempurna
Hingga akupun menjanjikan slamanya
Namun ternyata mimpi yang dia punya berbeda, berbeda…

Aku takkan bisa hidup tanpa dia
Dia yang membuat aku bahagia
Tolong aku untuk melupakan dia
Sungguh hanya itu yang aku pinta

Cerpen

Sebulan yang lalu, tepatnya Jum’at 30 Januari 2009, mustphar dan kesepuluh temanya satu angkatan di Humas mengadakan Family Gathering di Corner Resto Salemba. Cerita ini agak terlambat diturunkan karena menunggu dokumentasi foto yang disembunyikan chuantique.

foto: menyusul

Maafkan Aku…

Aku beranjak menuju jendela kamarku. Ku buka tirai jendela pelan-pelan. Di luar hujan masih belum juga reda. Sore itu Jakarta di guyur hujan lebat. Sesekali masih terdengar suara kilat menyambar, kemudian terdengar suara guntur menggelegar. Tanpa kusadari jalanan di depan rumahku sudah tergenang banjir. Walaupun belum begitu tinggi, namun sudah mulai masuk ke halaman rumah bahkan ada yang mencapai teras rumah. Rasa-rasanya hujan tak kunjung berhenti seakan langit akan menumpahkan seluruh air matanya. Mereka seolah-olah tau apa yang terjadi dengan diriku.

Aku sudah berhenti menangis saat itu. Seakan-akan air mataku sudah habis hingga tak mampu menetes lagi walaupun hati ini masih terus menangis. Dan langit seakan tahu hingga tanpa diminta pun mereka mau melanjutkan tangisku. Aku sudah capek menangis, walau sakit hatiku belum berkurang sedikitpun. Rasa lapar mulai terasa menganggu lambungku. Sudah dua hari aku mengurung diri di kamar hingga makan pun aku lupa. Kulihat di meja ada sepiring nasi yang diantar kakakku tadi siang. Nasi itu diantarkannya ke kamarku karena dari kemarin sore aku tak pernah ke luar kamar. Namun, sampai detik ini tak pernah aku sentuh sedikitpun. Dan aku tak peduli lagi dengan rasa lapar yang mencoba merayuku.

Dan aku yang belum mandi sejak tadi pagi menatap wajahku di cermin. Parasku yang cantik—kata orang-orang—terlihat menyedihkan di cermin meja riasku. Sungguh pesona kecantikanku yang aku bangga-banggakan selama ini pudar hanya dalam waktu satu malam. Ternyata aku baru sadar, kalau diriku pun bisa terlihat jelek dengan mata bengkak kemerah-merahan karena tidak tidur semalaman dan tak berhenti meneteskan air mata. Namun, aku pun tak peduli dengan semua itu.

Kulihat jam dinding kamarku, jarumnya terasa berputar lebih lambat dari biasanya. Dan aku pun berangan, seandainya saja jarum jam bisa berjalan ke belakang. Seandainya waktu bisa diputar kembali. Dan andaikan detik-detik yang telah hilang bisa diganti. Dan semua penyesalan ini tak akan pernah terjadi. Oh Tuhan, betapa bodohnya aku ini. Kenapa aku baru sadar setelah dia pergi?

Aku terkejut mendengar suara petir tiba-tiba yang memekakkan telinga. Ada sedikit rasa takut mulai menyelimuti dinding hatiku. Hal itu menyadarkanku serasa aku begitu kecil di hadapan yang Mahakuasa. Dan dari lubuk hatiku aku sadar aku tak mau terus menerus begini. Aku harus bisa keluar dari semua ini. Aku harus bisa menemukan diriku kembali. Tuhan, tolonglah aku agar bisa bangkit lagi.

Di luar hujan belum juga reda. Seperti hujan air mata yang terus-menerus membasahi dinding hatiku. Sempurna sudah suasana yang diciptakan. Aku masih termenung dalam lamunan. Sunyi hati ini, sepi jiwa ini, sendiri aku di sini tanpa seseorang yang ku ajak berbagi hati. Siapa yang masih mau mengerti dengan diri ini? Tuhan, masihkah Engkau peduli dengan diriku ini?

Terdengar bunyi dering HP kesayanganku, satu-satunya teman yang selalu menemaniku ke mana saja. Selalu ada di saat aku senang, tak pernah lari saat kesusahan datang. Ternyata sms dari Ary temanku kampus yang ngasih tau kalo ada postingan baru di blognya. Ary memang seorang blogger yang potensial, berpotensi menimbulkan kerusuhan. Aku bales sms Ary kalo aku belum mood untuk membacanya karena diriku pun masih dirundung masalah, dan kalo boleh aku ingin menceritakan masalahku ke Ary. Siapa tahu dia bisa ngasih saran. Atau barang kali bisa menjadi ide cerita di blognya. Siapa tahu? Karena Ary pernah bilang ke aku, kadang penderitaan orang lain bisa memberikan manfaat bagi seseorang lainnya dan kadang kesalahan orang lain bisa menjadi berkah bagi seseorang lainnya.

Aku menghidupkan laptopku. Aku bermasuk menceritakan keadaanku ke Ary melalui chatting. Entah apa yang terjadi dengan diriku saat itu. Hatiku mungkin sudah sedikit lebih kuat hingga aku berani menceritakan masalahku pada orang lain. Sambil chatting aku memutar playlist musik di laptopku. Sengaja kupilih lagu-lagu yang bisa mewakili suasana hatiku saat itu.

:’(

Ku ketikkan tanda emosi yang menunjukkan kalau aku sedang menangis untuk mengawali percakapanku dengan Ary sore itu.

“Ada apa May kok sore-sore dah tangis-tangisan kayak gitu?”

Maya adalah nama panggilanku di kampus Kalau temen-temen SMA dulu biasa memanggilku Luna. Nama panjangku Maya Maluna. Aku bingung mau memulai ceritaku dari mana. Terasa ada yang menetes di keyboard laptopku. Aku melihat ke atas kalau-kalau atap kamarku mulai bocor kerena hujan yang tak kunjung reda. Ternyata tidak, hanya air mataku yang jatuh kembali tak mampu ku tahan lagi. Saat ingin bercerita itulah aku jadi sedih lagi teringat semuanya itu. Di antara suara rintik air hujan yang agak mulai reda, sayup-sayup terdengar lagunya Samsons yang sengaja aku putar menemani kesedihanku.

Andaikan kau masih ada berdiri mendampingiku

Ku ingin kau pun tahu betapa ku menyayangimu

Andaikan ku sanggup untuk memutar kembali waktu

Tak pernah sekejap pun ku alihkan engkau dari perhatianku

“Aku ingin cerita tentang keanehanku”. :)

Kata-kata itu yang sengaja ku pilih untuk mengawali ceritaku pada Ary sambil kupaksakan untuk tersenyum. Iya, menurutku aku memang aneh.

“Keanehanmu yang mana?”

“Hikz… emangnya keanehanku banyak ya? Kok nanyanya keanehanku yang mana?”

“Hehe… aku kan gak tahu yang mana yang kamu maksud aneh itu?”

“Tapi ini rahasia lagi ya? Awas kalau sampai ada yang tahu”.

“Rahasia ke-3. Ancaman ke-14”

“Emangnya yang pertama rahasia apa? Kok sudah ancaman ke-14?” :)

Kali ini aku bener-bener tersenyum, bukan lagi senyum yang kubuat-buat. Memang temenku yang satu ini pandai bikin temen-temennya tertawa. Dia memang dikenal humoris, lebih tepatnya sok humoris, sok puitis dan sok romantis. Kadang aku sampai tertawa terbahak-bahak dibuatnya. Walau kadang bercandanya agak menyakitkan diriku. Tapi aku sadar, itu hanya bercanda tidak ada maksud menyakiti hatiku.

“Gini, aku critain dulu. It’s about Rio”

“OK”

“Aku critain awalnya ya? Sebenernya dari awal aku deket. Dan aku dah sadar kalo cowo ini aneh. Makanya awalnya aku juga beda memperlakukan dia”.

“Kok aneh? Maksudnya?”

“Maksudnya ada niat-niat tertentu. Itu yang akau rasakan Ry, gak tahu maksudnya dia gimana? Siapa tahu kan aku yang GR?”

“Berarti nalurimu masih berfungsi”.

“Iiih… dasar! Ya masihlah. Makanya awal-awal aku agak males diajak jalan ama dia. Trus sampai suatu saat aku lagi patah hati banget. Aku critain sama dia. Dia tahu I’m single now”.

“Wow… terus?”

“Ya udah, dia mulai deket-deket lagi. Awalnya aku sebenernya males. Tapi ya udahlah, lumayan buat pelarian, hehe… Kan katanya untuk melupakan patah hati kita butuh pelarian. Jadi ya udah, seneng-senenglah aku ma dia”. :)

“Witing tresno jalaran…”

“Trus aku dimarahin temen-temenku, katanya sikapku ke Rio itu bukan aku banget. Aku bukan tipe cewe yang suka mempermainkan cowo kayak gitu”.

“Kamu bukan tipe cewe yang suka mempermainkan cowo. Tapi tipe cewe yang suka dipermainkan cowo?”

“Heh! Aku critain dulu”

“Ok. Sory”

“Ya udah akhirnya aku sadar. Iya, kasihan Rio. Dia baik banget dan aku cuma mainin dia. Dan setelah itu, aku mulai merubah sikapku padanya. Pokoknya aku tegasin ke dia kalau aku nganggep dia cuma temen. Aku nangis-nangis di depan dia. Aku certain semuanya keadaanku sebenarnya. Kalau aku tu cuma butuh pelarian”.

“Trus sekarang dah cape lari-larinya?”

“Heh! Dengerin dulu. Padahal awalnya dia tu mancing-mancing banget deh. Aku sampe geli sendiri mendengarnya. Hahaha…”

“Mancing maksudnya?”

“Ya sampai akhirnya aku minta dia cariin cowo buat pelarian, eh dianya gak mau. Ya udah, akhirnya sekarang aku apa-apa ke dia. Beneran, aku bener-bener nganggep dia temen. Selalu menyadarkan kalau dia berhak mendapatkan orang yang lebih baik dari aku”.

“Baguslah, kalau kamu sadar diri, hehe…”

“Trus sampe akhirnya dia mulai nyritain cewe yang lagi deket ma dia. Ya, aku ndukung-ndukung gitu lah. Tapi kemarin sore dia kasih tau kalo dia tambah deket sama cewe itu. Dan aku sakit hati banget Ry, aku sampai gak bisa tidur semaleman. Aneh kan? Kenapa aku sakit hati? Aku kan cuma temennya.”

“Jadi sebenernya kamu itu juga ada rasa ‘suka’ ama dia”.

“Gak ah. Aku merasa sebentar lagi aku akan kehilangan dia”.

“Atau kalau gitu kamu tu sebenarnya masih ‘butuh’ dia. Gak mau dia segera meninggalkanmu”.

“Iya, aku gak mau kehilangan dia. Tapi aku terlambat mengerti Ry. Hikz… Dulu waktu dia masih suka, aku cuekin, aku pertegas kalau kita cuma temen. Sekarang? Hikz…”

“Kamu itu gak gampang suka sama seseorang, tapi kalau dah terlanjur suka juga sukar melupakannya?”

“Emang iya? Iya ya, temen-temenku juga bilang gitu. Memang awal-awalnya aku gak suka kok sama dia. Biasa aja. Huuufff… jadi sebel, kenapa dia perhatian banget siy?”

“Kamu itu tipe cewe yang gak pernah jatuh cinta pada pandangan pertama”

“Hehehe… iya. Trus?”

“Kelemahanmu itu…”

“Apa?”

“Ya yang seperti dimanfaatkan Rio itu”.

“Apa? Emangnya Rio memanfaatkanku?”

“Bukan itu maksudku. Saat kamu merasa terpuruk karena sesuatu hal. Seperti butuh pelarian itu misalnya, seseorang yang saat itu ada untukmu, mengerti akan dirimu, selalu memperhatikannmu, mendengarkan semua keluhanmu, saat itu kamu merasa dekat dengan dia walaupun sebelumnya mungkin kamu tidak suka atau bahkan benci dirinya.”

“Iya Ry, sebenernya aku sulit juga nglupain mantanku dulu. Susah. Cuma saat itu ada Rio yang perhatiannya wuiiihhhh gilaaaa….perhatian buanget deh. Terus mantanku juga gak disini jadi lebih bisa cepet nglupain.”

“Kata orang sih cara mudah nglupain seseorang itu dengan cari pelarian.”

“Kalau aku terus-terusan cari pelarian kapan aku punya seseorang yang pasti Ry?

“Suatu saat dia akan datang pada waktu dan cara yang indah”.

“Hahahaha… Iya Ry. Tapi kenapa siy aku selalu terlambat mengerti? Mbok besuk lagi kalau ada cowo yang deket denganku aku diingetin Ry, biar gak terlambat”.

“Gak papa terlambat mengerti, kata orang lebih baik terlambat mengerti daripada tidak mengerti sama sekali, hehe… Trus gimana kabarnya Rio sekarang?”

“Dia masih tetap menjadi temen cowo terbaik di sini kok, masih tetep perhatian. :) Cuma aku merasa kehilangan peluang terbaikku. Trus, apa saranmu?”

“Ya kalau kamu masih suka sama dia, jalani aja biasa apa adanya. Berharaplah dia terlambat pergi?”

“Maksudmu?”

“Ya gak papa kamu terlambat mengerti. Mudah-mudahan dia juga terlambat pergi sehingga masih ada waktu untuk bersamanya lagi”.

“Bukannya aku takut akan kehilangan dirimu tapi aku takut kehilangan cintamu…”

“Kamu nyannyi?”

“Nggak, cuma teriak-teriak ngusir tikus di kolong meja”.

“Oooo…”

“Percayalah pada apa yang kamu rasakan”.

“Nah gitu Ry, sebenere aku sering mengingkari perasaanku, juga karena itu. Aku tu gak pernah pede. Hehehe… Pasti gak percaya kan?”

“Saranku, jalani dulu apa adanya”.

“Iyo Ry, let it flow. Right?”

“Kalau dia bener-bener mencintaimu, dia akan kembali lagi untukmu”.

“Lah, kalau yang kembali banyak gimana Ry? Hahaha… Ngarep”

“Dan dia tak akan mungkin bisa melupakanmu walaupun dia bersama orang lain. Dan dia sedikitpun tak akan pernah membencimu walaupun dia tak pernah bisa memilikimu. Seandainya kesempatan itu ada, dia pasti ingin kembali lagi padamu”.

“Halah…kok jadi ada yang curhat colongan ya?”

“Heh! Siapa yang curhat colongan?”

“Hihihi… Iya Ry. Thank ya.”

“Kayaknya aku jadi terinspirasi bikin cerpen dari kisahmu. Judulnya ‘Maafkan Aku Terlambat Mengerti’. Bagus gak? Hehe…”

“Iya, tapi endingnya harus yang keren Ry. Akhirnya aku ketemu cowo yang bener-bener cinta mati dengan aku dan aku juga mencintainya tanpa lagi terlambat mengerti, hehe… Cowo itu Jacob Black bangetlah Ry. Hahaha… Ngarep”.

“???!!!!”

“Trus, akhirnya kami menikah, hidup berkecukupan, punya anak yang cakep-cakep dan bahagia selamanya. Hahaha…. Dongeng banget”.

“Eh, bangun-bangun!”

“Hehehe… Iya Ry, aku dah ngantuk ini mau tidur dulu, semalem sampe gak tidur lho, meratapi kesalahan ini. Pokoknya malem ini aku mau tidur sepuasnya. Biar besok aku bisa seharian bersamanya. Hahaha…”

“Ya udah, cepetan tidur sana! Semoga apa yang kamu jalani besuk bersamanya seperti apa yang kamu mimpikan malam ini”.

Entah apa yang terjadi dengan diriku saat itu, yang jelas apa yang aku rasakan saat ini jauh berbeda dengan yang sebelumnya. Aku mulai berani berharap lagi. Berani merajut lagi mimpi-mimpiku yang telah pergi. Berani berharap setidaknya dia akan terlambat pergi walaupun sesaat. Dan yang pasti aku berani menatap masa depanku lagi. Iya benar, aku yakin suatu saat dia akan datang dengan cara yang indah pada waktu yang ditentukan oleh-Nya. Dan samar-samar masih terdengar alunan lagunya Dygta yang mulai tidak kucerna di telingaku.

Dan semua yang pernah kau berikan

T’lah membuka mataku untukmu

Kini ku mencintaimu memiliki dirimu

Dan waktu t’lah merubah segalanya

Masihkah dirimu mencintaiku

Maafkan aku, ku terlambat mengerti

Jakarta, 21 Feb 2009

Copettt!!!

 

                Mungkin Anda pernah mendengar orang berteriak meneriakkan kalimat itu, mungkin pula anda yang mengalaminya sendiri, atau mungkin anda sendiri yang diteriaki orang dengan kalimat itu. Teriakan tersebut bukan sekedar teriakan seperti teriakan latah endahhh memanggil bosnya, bukan pula teriakan anas memperkenalkan dirinya, namun teriakan spontan penuh ekspresi, penuh emosi, dan penuh energi atas bercampurnya berbagai rasa kaget, marah, benci, yang bisa bermakna makian, pemberitahuan, ataupun minta bantuan.

                Dalam perjalanan naik Transjakarta dari Kalideres ke Cempaka Baru hari minggu kemarin, aku sengaja turun di halte kwitang untuk membelikan buku seorang teman. Pulangnya aku naik bus kota merk Metromini type 47. Setelah sekitar dua menit nunggu di halte depan Pasar Senen, akhirnya metromini 47 datang. Aku bersama beberapa penumpang lainnya naik. Aku naik lewat pintu depan dan seoarang bapak (sebut saja bapak A) naik lewat pintu belakang. Saat naik itu kulihat di bangku panjang paling belakang telah terisi tiga orang laki-laki (misalkan saja K, L, M). Bangku depannya sebelah kanan telah diduduki seorang laki-laki (sebut saja N), sehingga masing kosong satu, maka seorang bapak yang naik lewat pintu belakang tadi (bapak A) dipersilakan duduk di sebelah laki-laki tersebut dekat jendela. Sedangkan bangku persis di depannya telah terisi penuh. Di depan laki-laki N tadi dudu seorang laki-laki (sebut saja O) dan seorang penumpang lain dekat jendela. Di deretan bangku depan dan juga sebelah kiri bus telah terisi penuh, maka dari pintu depan aku terus saja ke belakang, bermaksud duduk di bangku paling belakang bersama tiga lelaki yang telah ku sebutkan tadi (K, L, dan M).

                Saat berjalan ke belakang tersebut, laki-laki N berdiri. Saat persis di sebelah laki-laki O tadi, laki-laki O tersebut seperti hendak mengambil sesuatu di dekat kaki kiriku. Namun tidak, ternyata dia menarik-narik bagian bawah celana jeanku di kaki kiriku. Bersamaan dengan itu laki-laki N berjalan lewat sebelah kananku seperti mau ke bagian depan bis. Saat itulah tangan kanan laki laki N tersebut merogoh saku depan celana jeanku. Dan itu prosesnya berjalan sangat cepat, bersamaan, terorganisir rapi, seperti sudah berulang kali dipraktekkan sehingga nyaris tanpa cacat.

                Saat itu aku sempat memperhatikan laki-laki O yang menarik-narik celana jeanku itu dalam waktu sepersekian detik. Namun, secara reflek mataku langsung melihat lelaki N di sebelahku dan tangan kiriku memegang saku kanan depan celana jeanku, sedangkan tangan kananku memegang saku celana bagian belakang sebelah kanan yang berisi dompet. Saat tangan kiriku memegang saku depan itualah ternyata tangan laki-laki N tersebut sudah di sana hendak mengambil LG KU 990 R milikku. Namun ternyata geraknya kalah cepat dengan gerak reflekku. Saat itu aku berteriak, namaun tidak meneriakkan kata copet. Aku cuma memanggil “Bang…!!” hanya kata itu dan tidak jadi aku lanjutin. Sebenarnya mau aku tanya “Bang, mau ngapain!!” Untuk sementara aksi laki-laki N tersebut tidak berhasil.

                Jika saja aku terpancing memperhatikan ulah lelaki O –yang tidak jelas tadi yang mungkin hanya ingin mengalihkan perhatianku—dalam hitungan lebih dari satu detik mungkin ceritanya akan lain. Karena semua itu berjalan sangat cepat, seperti keahlian yang telah yang telah melekat erat, berulang kali diperbuat sehingga nyaris tanpa cacat. Setelah gagal melakukan aksinya tersebut laki-laki N tadi kembali ke tempat duduknya. Dan aku laki-laki O diam di tempat duduknya seperti tidak terjadi apa-apa. Namun aku yakin, sebenarnya penumpang lain di sebelah kananku tadi dan juga tiga penumpang laki-laki di bagian belakang tadi juga tahu akan hal itu. Namun, mereka juga bersikap tidak terjadi apa-apa. Dan aku pun demikian, seperti tidak terjadi apa-apa aku lanjut langkahku menuju bangku belakang dan duduk diantara tiga laki-laki tadi.

                Aku duduk dengan posisi masih membawa tas punggung di bagian belakang. Posisi dudukku aku di dekat pintu, namun di sebelah kiriku masih ada satu orang (sebut saja laki-laki K) dan sebelah kananku dua orang laki-laki (sebut saja L dan M). Entah sengaja atau ada keperluan apa, laki-laki K ini seperti mau memegang tasku yang masih ku gendongkan di punggunggku. Secara reflek juga aku langsung melepas tasku dan aku pangku di depan, tanpa menaruh curiga sedikitpun pada orang ini. Dua orang pecundang tadi (laki-laki N dan O) masih sering kali menolah ke belakang memperhatikanku, atau mungkin memperhatikan tiga orang di sebelahku. Namun tetap terus aku lihatin dia, dan aku perhatikan terus gerak-geriknya. Sempat kepikiran aku mengeluarkan hpku untuk memotret mereka karena masih terus-terusan melihat ke arahku.

                Dalam jarak perjalanan sebelum mencapai fly over galur beberapa penumpang naik, termasuk dua orang pemuda (sebut saja B dan C) yang berdiri di bagian belakang karena tidak mendapat tempat duduk. Saat bus akan menaiki fly over galur, pecundang N tadi menepukkan kedua tangannya dua kali, mungkin memberikan kode kepada sopir untuk berhenti sebentar karena mau turun. Saat inilah laki-laki yang duduk di sebelah kananku tadi (L) juga ikut berdiri mungkin akan ikut turun juga. Ternyata ia berdiri di samping pemuda B tadi dan agak sedikit menghalangi pandanganku. Namun, aku masih bisa melihat saat tangan pecundang N tadi mencoba merogoh saku celana pemuda B tadi. Aku terus memperhatikan aksi pecundang N tadi dan mungkin dia juga sempat melihatku menonton aksinya lagi. Dan itu prosesnya sangat cepat, lebih cepat daripada anda membaca paragraph ini, ya kira-kira selama rentang waktu sopir mengerem bis yang berjalan tidak begitu cepat hingga bis berhenti.

                Dan lagi-lagi laki-laki N tersebut menjadi pecundang untuk kesekian kalinya karena gagal menjalankan misinya. Ternyata saku celana pemuda B tadi tidak ada HP ataupun barang lain yang bisa diambil menurut perkiraanku karena sekilas aku juga melihat nggak ada sesuatu. Atau mungkin pecundang N tersebut mengurungkan niatnya karena telah ketahuan olehku dan pemuda C di dekatnya. Selenjutnya laki-laki N tersebut turun diikuti laki-laki O, L, M dan terakhir K yang duduk diam saja di sebelah kiriku. Ternyata mereka berlima satu komplotan.

                Setelah mereka turun, pemuda C tadi duduk di sebelahku dan di sebelahnya duduk pemuda B yang bernasib mujur tadi. Aku bilang kepada pemuda B “Bang, tadi lihat nggak masnya (pemuda C yang ku maksud) mau dicopet tadi?” “Iya” jawabnya sambil menganggukkan kepala. “Ternyata mereka berlima, kirain cuma dua orang tadi yang mau nyopet saya juga” lanjutku. Sedangkan pemuda C di sebelahnya kulihat hanya plenggang-plenggong seperti baru saja sadar bahwa bahaya telah mengintainya telah lolos darinya.

                Dalam hati aku bersyukur pertama karena aku tidak jadi kecopetan, dan selama ini aku memang belum pernah kecopetan (ataupun mencopet) dan semoga tidak akan pernah merasakan kecopetan. Yang kedua karena aku mengurungkan niatku untuk memotret pecundang N dan O tadi. Kalau saja aku potret mungkin saja ketiga laki-laki yang ada di sebelahku tidak akan tinggal diam karena ternyata mereka bertiga adalah temannya.

Lagi-Lagi…

Hedonis! Kisah itu terulang lagi. Nanti akan kau ceritakan kepada kalian. Namun sebelumnya saya ingin mengumumkan kepada kalian kalau sebenarnya yang mempopulerkan kata hedonis di Humas itu adalah anas. Kemarin dia komplain karena hal tersebut tidak aku sebutkan dalam postinganku sebelumnya. Dia juga gak terima kalau dibilang playboy. ”Moso wong-wong kabeh ngomongke aku playboy”  kata anas. “Aku ora trimo!”  lanjut anas. “Cewekku kan mung telu, moso disebut playboy”  bantah anas akan tuduhan yang tak sedap yang ditujukan kepadanya.

Oh iya lupa, ini kisah hedonis yang terulang itu.

 hd1hd2hd3

 hd4hd5

Pokoknya Aku harus Dapet Satu!

Kemarin saat mustphar main ke kandangnya endahhh –saat itu statusnya masih penjaga kandang—di lantai 12, endahhh bertanya: “Emange kapan dhewe sepakat meh ngewenehi penghargaan nggo sing paling cepet menduduki eselon IV?” Mustphar menjawab “Mbiyen kae pas awal-awal masuk”. “Lho kok aku ora ngerti?” tanya endahhh kemudian. ”Yo ra popo lah, penting ikut meramaikan wae”. “Tapi aku rodo pesimis must yen dijak bersaing dhisik-dhisikan menduduki eselon IV” ungkap endahhh kurang bersemangat. “Tapi yo ra popo ding, ijik ono sijine kan? Pokoke aku kudu entuk siji” tekad endahhh kemudian menyadari dirinya masih punya satu peluang lain yang menurut dia barang kali sangat mudah untuk memenangkan kompetisi itu. “Yen ngono yen ora iso entuk siji, aku kudu entuk sijine!” ungkap mustphar tak mau kalah.

Itulah kawan, kelihatannya endahhh begitu antusias ingin memenangi salah satu dari kompetisi tersebut. Dan ini tidak boleh dibiarkan. Maksudku kita harus mendukung endahhh untuk segera memenangkan kompetisi tersebut. Atau barangkali mungkin kita harus cepat-cepat agar jangan sampai kalah dengan endahhh. Dan aku yakin ini akan menjadi kompetisi yang seru. Di bab terdahulu pernah aku tulis kawan, kalau kami telah sepakat akan memberikan semacam penghargaan kepada teman kami satu angkatan masuk di Humas bagi yang pertama kali menikah.

Dan endahhh sangat yakin, untuk kategori ini dialah yang akan jadi pemenangnya. Kalau kalian waktu itu ada di dekat mustphar, kalian akan melihat raut wajah endahhh yang sangat optimis. Kalau boleh aku gambarkan lagi seperti bila anda memutuskan melamar seorang gadis yang sebelumnya telah anda pacari selama bertahun-tahun, dan gadis tersebut sangat mencintai anda, begitu juga kedua  orang tuanya, kakek-neneknya, saudara-saudaranya, tetangga-tetangganya, teman-temanya, teman-teman ibunya, teman-teman bapaknya, mantan-mantan pacarnya, ibu mantan-mantan pacarnya, dan bapak mantan-mantan pacarnya  pun telah merestui hubungan anda dengan gadis tersebut. Kemudian Anda berniat menikahi gadis tersebut dan sekedar untuk formalitas anda melamarnya, tentunya anda sangat yakin kalau lamaran anda tidak akan ditolak. Atau barangkali ketika Anda waktu SMA dulu adalah seorang murid yang sangat pandai dan selalu mendapat juara satu tingkat kabupaten, mengerjakan soal ujian yang anda telah tahu soalnya terlebih dahulu begitu juga dengan kunci jawabannya, telah anda hafalkan dan pelajari berulang-ulang soal dan jawabannya tersebut sebelumnya, sampai hafal betul bahkan semua jenis huruf dan ukuran font untuk menulis soal tersebut. Anda tentu saja haqul yakin akan mendapat nilai bagus dari ujian tersebut. Atau mungkin seperti keyakinan anda akan mendapat arisan setelah anda mengganti semua nama yang ada di dalam alat pengundi arisan tersebut dengan nama anda sendiri.

Namun, hari berikutnya mustphar mendapati endahhh memajang custom message pada google talk-nya dengan ungkapan: “Kenapa sih orang jawa itu ribet banget?” Membaca keadaan yang agak mencurigakan, mustphar bertanya kepada endahhh: “Emange kowe arep melakukan ritual opo ndahhh?” Endahhh menjawab: “Ketoke aku sing wingi kae ora sido menang must”. Kabar buruk buat endahhh dan kabar baik buat kalian-kalian yang ingin mendahului endahhh. Namun, perjuangan endahhh tidak berhenti sampai di situ saja, dia terus mencari informasi dan bertanya kepada orang yang dianggap lebih tahu. Dari hasil penyadapan penulis terhadap aktifitas percakapan terakhir endahhh via gtalk, dapat penulis bocorkan kepada kalian seperti di bawah ini. Namun ingat, jangan sampai kalian beritahukan kepada endahhh dan jangan sampai endahhh tahu akan hal ini. Karena kalau sampai endahhh tahu, akan menjadi ceritra lagi di tulisan berikutnya.

Berikut ini adalah percakapan citra dengan endahhh pukul 09.50 WIB sampai pukul 10.47 WIB.

(sudah dihapus)

The Page cannot be displayed

The Page you are looking for is unavailable due to its identification configuration settings.

Belajar dari Antara, detikcom dan Singapura

Kemarin kami dapat pelatihan mengenai penyusunan web artikel. Ternyata, menulis artikel di web dengan di media cetak itu berbeda. Pelajaran yang saya peroleh dari mas Suryanto –wartawannya antara—bahwa menulis berita di web itu tidak perlu berbunga-bunga. Jadi dari paragraph pertama, kalimat pertama langsung kalimat inti. Langsung pada pokok permasalahan. Karena menurut beliau membaca berita di web itu hanya di-scaning saja. Di web, membaca dua paragraph aja sudah terengah-engah, kalau tidak langsung ke inti berita, pasti pembaca akan lari. Masih menurut beliau bahwa sebaiknya panjang tulisan di web tidak lebih dari dua scrolling, atau dua kali menggulung layar computer anda.

Saat kunjungan ke detikcom, kami sempat meminta pihak detikcom untuk memberikan komentar kepada website depkeu. Untuk menjawab hal itu, kami diajak membandingkan website pemerintah kita dengan website pemerintah Singapura. Ternyata website pemerintah singapura lebih user friendly. Saat kita buka halaman pertama website pemerintah Singapura, kita akan lebih mudah menemukan informasi apa yang ingin kita cari. Berbeda dengan bila kita membuka www.ri.go.id misalnya, di halaman pertama akan langsung disambut dengan photo presiden dan wakilnya, beserta lambang negara garuda Pancasila. Suatu kehormatan bagi kita sebenarnya, namun tujuan kita membuka website tersebut bukan untuk mencari photo presiden ataupun wakilnya. Bukan pula untuk melihat seperti apa lambang negara garuda Pancasila karena sudah hafal betul kita. Namun tidaklah mengapa, karena di negara kita seperti itu mungkin sudah menjadi suatu kebiasaan atau bahkan suatu keharusan. Mungkin berbeda dengan negara Singapura yang mungkin lebih melihat dari sudut pandang apa yang dibutuhkan oleh pembaca.

singov ridetik foto

Me vs High Heel

Sebelum melanjutkan tulisan ini, saya ingin mengajukan pernyataan: “Bagi sebagian orang, high heel adalah musibah”. Jangan buru-buru protes dulu, ini kan hanya usulan kepada forum, kalau diterima ya silakan, kalau tidak diterima ya jangan. Ini hanya pendapat pribadi penulis dan tidak mewakili instansi di mana penulis bekerja. Kalian boleh setuju atau pun tidak. Kalau setuju silakan angkat tangan, kalau tidak setuju silakan angkat kaki.

Akan aku ceritakan kepada kalian suatu kisah mengenai high heel yang juga dialami oleh temen kita sendiri. Untuk kali ini kuceritakan kisah Nobita Ndhut yang kemarin telah aku perkenalkan kepada kalian. Namun sebelumnya aku ingin memberitahukan kepada kalian bahwa kedepannya nama Nobita Ndhut akan diganti dengan chuantique. Dibaca: canti’, diucapkan seperti kalau kita membaca huruf arab atau huruf hijaiyah yang berakhiran hamzah mati atau hamzah sukun. Sebenarnya penggantian nama ini ada sejarahnya tersendiri, mungkin nanti kalau ada waktu akan aku ceritakan kepada kalian dalam artikel tersendiri. Namun, secara singkat dapat aku jelaskan pokoknya yang empunya nama tidak mau kalau dipanggil Ndhut, dan merasa pantas dipanggil chuantique—ingat tetep diucapkan seperti yang telah aku jelaskan sebelumnya.

Setelah membaca tulisanku kemarin, chuantique marah-marah dan gak terima kalau dirinya dipanggil Nobita Ndhut. Dan tentu saja aku yang jadi korbannya. Kalau kemarin aku pernah menggambarkan mb pi kalau pasang tampang marah itu seperti harimau betina yang sedang kehilangan seekor anaknya, yang ini lebih galak lagi hingga sulit aku menggambarkannya. Mungkin kalau dapat aku umpamakan seperti singa betina yang kehilangan dua ekor anaknya, habis itu ditinggal selingkuh pejantannya, kemudian ditangkap manusia beramai-ramai dan dibawa ke kota, dimasukkan dalam kerangkeng kawat yang kuat dan tidak dikasih makan selama satu bulan. Kemudian salah satu diantara kalian dipaksa masuk kedalam kerangkeng tersebut. Saat itulah kalian akan menyaksikan sendiri seperti apa seekor singa betina yang sudah meninggal dunia.

Waktu itu chuantique sedang menghadiri pernikahan salah seorang teman kami di Jakarta Selatan. Chuantique berangkat ke sana bersama dua orang temannya, yaitu westy dan kiky’ (mbacanya sama kaya canti’ tadi). Untuk acara tersebut chuatique memakai pakaian baru dengan sepatu hak tinggi yang juga baru. Kalau kalian ingin tahu seperti apa sepatunya dapat dilihat pada photo yang di bawah. Nah, mungkin karena baru kali ini pakai sepatu hak tinggi atau karena sepatunya yang masih baru, dalam perjalanan pulang yang waktu itu naik transjakarta busway, sepatu tersebut memakan korban. Saat berdiri di dalam busway karena nggak dapat tempat duduk, kaki kiky’ keinjek chuantique yang memakai sepatu hak tinggi tersebut. Kalian tentu saja bisa membayangkan seperti apa rasanya.

Dalam ilmu fisika kita kenal dengan istilah tekanan. Tekanan dirumuskan dengan gaya yang diberikan dibagi dengan luas bidang tekan. Maka semakin besar gaya yang diberikan, tekanan yang diderita akan semakin besar. Demikian sebaliknya semakin kecil luas bidang tekan, tekanan yang diderita justru semakin besar. Dalam hal ini yang bertindak sebagai gaya adalah berat orang yang memakai sepatu hak tinggi tersebut, sedangkan luas bidang tekan adalah luas hak sepatu yang menyentuh lantai. Anda bisa membayangkan, seorang pria yang memakai sepatu pria dengan seorang wanita yang memakai sepatu hak tinggi akan memberikan tekanan yang berbeda besarnya terhadap lantai yang dipijaknya. Luas alas sepatu pria yang menyentuh lantai bisa seratus kali lebih luas dari luas hak sepatu wanita yang menyentuh lantai. Jadi dapat dipastikan, dengan berat badan yang sama, seorang wanita yang memakai sepatu hak tinggi akan memberikan tekanan kepada lantai yang dipijaknya seratus kali lebih besar daripada seorang pria yang memakai sepatu pria biasa. Bayangkanlah. Itulah mengapa kalau kita menjinjing barang dengan tali yang kecil akan terasa lebih sakit daripada menggunakan tali yang lebih besar.

Itulah kawan. Aku hanya ingin sedikit membantu kalian melihat hal itu dari sudut pandang ilmu fisika. Kalau seperti apa yang dirasakan kiky’ saat peristiwa tersebut aku tidaklah tahu pasti. Kalian lebih bisa mengira-ira dan membayangkan sendiri. Namun, kalian nggak usah sampai nanya berapa berat badan chuantique untuk menghitung gaya tekannya. Cukup kalian simpan dalam hati saja. Aku akan ceritakan cerita yang lain pada kalian. Waktu itu chuantique sandalnya yang baru. Seperti kataku tadi tiap chuantique punya sandal ataupun sepatu baru pasti akan memakan korban. Kali ini yang jadi korbannya adalah mustphar. Entah karena sengaja ingin memamerkan sandal barunya, atau sudah lama tidak main bola, atau memang karena mustphar yang kurang ajar, chuantique menendang mustphar hingga kena tulang keringnya.

Terakhir kali saat balik dari kantin Itjen. Kali ini korbannya mb pi. Setelah selesai makan siang di kantin, bareng-bareng chuantique, endahhh, reni, mb pi, citra, mustphar dan mazecho kembali ke kantor. Di perjalanan saat menuruni tangga dari lantai dua gedung itjen terjadilah peristiwa tersebut. Chuantique nginjek (lagi) kaki mb pi. Kalian pasti akan menebak kalau chuantique pakai sepatu baru. Untuk kali ini tebakan kalian memang benar. Mula-mula mb pi cuma tahu kalau kakinya diinjek chuantique, setelah di kantor ternyata mb pi baru sadar kalau kakinya berdarah.

Itulah kawan mengapa tadi aku bilang kalau bagi sebagian orang, high heel adalah musibah. Bukan musibah bagi yang memakai namun musibah bagi orang lain. Itulah, maka kalau chuantique memakai high heels aku merasa kasihan dengan yang jalan didekatnya. Begitu juga kalau citra memakai high heels, aku merasa iba terhadap yang jalan bersamanya.

high heel

Hedonis Mode: On

Hedonis, kata itu begitu popular di Humas akhir-akhir ini. Ya, itu karena keempat teman kita mb pi, mustphar, anas dan ndhut sedang mengaktifkan mode hedonis. Sebenarnya dari keempat teman kita tersebut mb pi-lah yang paling hedonis. Dilihat dari gaya hidupnya yang sering ke atrium –tempat yang bisa dibilang cukup wah di kalangan kami untuk sekedar makan, belanja. Kalau tidak mau dibilang tiap hari, ya tiap dua harilah, walaupun untuk sekedar makan, belanja, nonton, ataupun ke salon.

Pernah suatu saat waktu mustphar sama siko mau beli tiket kereta di Stasiun Senen. Karena tiket jurusan solo habis, maka siko mengirim sms ke mb pi untuk menanyakan kereta jurusan Kutoarjo. Ternyata ditunggu lama mb pi tidak membalas sms tersebut. Akhirnya mustphar menelpon mb pi. “Halo mb pi, neng ndi saiki?” tanya mustphar berbasa basi. “Lagi neng atrium Must, maem karo Putri”, jawab mb pi. ”Mau di-sms siko kok gak bales mb?” tanya mustphar kemudian. “Lagi ora duwe pulsa must”, jawab mb pi kemudian. “Halah kemayu tenan ki, pulsa wae ora duwe mangane neng atrium” umpat mustphar selanjutnya. Ya begitulah mb pi, tak apalah pulsa kosong yang penting atrium jalan terus.

Kerena sudah menjadi  tema waktu itu, apapun dikatakan hedonis, walaupun tidak ada hubungannya sama sekali. Sarapan pagi nggak diajak, pasti marah-marah sambil bilang “dasar hedonis”. Terlambat datang ke kantor dikatain “hedonis”. Mbolos kerja “hedonis”. Makanya kalau mustphar ketemu mb pi –yang sedang pasang tampang stress karena kerjaan nggak beres-beres, ingin mengamuk karena kerjaan yang bertumpuk-tumpuk, dan jangan tanya kawan kalau kalian pernah lihat harimau betina yang kehilangan seekor anaknya, kalian tentu bisa membayangkan betapa galaknya ia—pasti bilang “hedonis”.

Akan tetapi. Tetapi, betapapun galaknya mb pi, kalau dengan mustphar tidaklah berani. Walaupun tidak terima dikatakan hedonis, mb hanya bisa mengelak “Yo ben hedonis, daripada kalian tiru-tiru hedonis!!”. Tanda seru-nya dua. Aku kasih tahu kawan, ciri khas mb pi kalau kalian pernah chating-an dengannya pasti kalau nulis tanda baca selalu dobel, baik tanda seru, tanda tanya, dan tanda baca yang lainnya. Maka jangan salah kalau kalian ingin coba-coba membajak gtalk-nya. Mungkin seperti nobita, mb pi juga suka yang dobel-dobel.

Ya seperti itulah mb pi, mungkin ia lebih merasa terhormat dibilang hedonis daripada dibilang tiru-tiru hedonis. Sama-sama hedonisnya sebenarnya, hanya perbedaannya yang satu hedonis bawaan dari sono-nya sedang yang lain ikut-ikutan. Jadi dia cuma tidak mau dibilang tiru-tiru, baginya predikat tiru-tiru merupakan aib yang harus selalu dijauhi. Bicara mengenai tiru-tiru dan ikut-ikutan, ada tokoh yang sangat anti akan hal itu: mustphar. Dari dulu ia selalu mengklaim bahwa dirinya adalah seoarang yang kreatif, makanya dia paling tidak suka kalau dibilang tiru-tiru ataupun ikut-ikutan. Makanya kalau misalnya ada yang PSW atau meninggalkan kantor pada jam kerja, kemudian melarang mustphar untuk ikut, “Phar kamu jangan ikut-ikutan!”. “Enggak Pak, saya nggak ikut-ikutan, saya ikut beneran!” jawab mustphar.

Ada cerita lagi kawan. Waktu itu mustphar sedang DL ke Aceh. Di sana suatu saat sedang ngobrol di kantin bersama Pak Daddy dan Pak Cip. Pak Daddy cerita macem-macem. Sampai suatu saat Pak Daddy bilang: “Anas itu playboy lho”. Seperti pernah aku bilang kawan, dari tampangnya pun kelihatan, andai saja kalian lihat tanpa membuktikan pun kalian akan setuju dengan pendapat Pak Daddy tersebut. “Masa tiap cewek dideketin, anak PKL di lantai 12, di lantai 11, bahkan yang di lantai 1 pun dideketin sama dia” lanjut Pak Daddy menegaskan. Pak Daddy melanjutkan kata-katanya sambil menunjuk mustphar: “Lha sekarang ini ikut-ikutan”. Dikatakan begitu mustphar tidak terima. Dengan nada yang sedikit lebih tinggi mustphar menyangkal: “Enggak Pak, enak aja, saya nggak ikut-ikutan Pak. Anas yang ikut-ikutan!”

Cerita yang lain lagi saat mustphar masih kuliah dulu. Dia salah satu pencetus bulletin Sesat yang konon melegenda itu. Hampir seluruh mahasiswa satu jurusan membacanya, mencarinya bahkan sebelum terbit sudah banyak yang memesan di photocopy-an terdekat. Setelah lulus pun ternyata ilmu Sesat tersebut masih berguna bagi adik tingkatnya. Maka tatkala Mabrur –teman satu angkatannya—berkomentar: “Cah tingkat telu ke kabeh pengikut aliran Sesat”. Mustphar menyangkal akan hal itu: “Ora kabeh Brur, aku ora kok”. Mabrur langsung meralat kata-katanya: “Iyo, kowe dudu pengikut, kowe pendiri”.

Pengenalan Tokoh (bagian 2)

Selanjutnya yang tak kalah seru kisahnya kita sambut, siko. Jika saja di Humas perlu dibentuk sub bagian photocopy, dialah calon tunggal kasubbagnya. Bersama mb pi dan reni media cetak maupun elektronik menjadi sarapan wajibnya tiap pagi. Mulai dari Kompas, Bisnis Indonesia, Seputar Indonesia, sampai detik.com menjadi mainannya sehari-hari. Mungkin sebentar lagi kalau blog ini di-launching bisa menjadi bacaan wajibnya setiap pagi. Mudah-mudahan. Sama seperti reni, siko juga seorang penulis blog yang potensial, maksudnya berpotensi menimbulkan kericuhan. Berangkat dari menulis Sesat, ia adalah penulis yang berbakat yang nantinya akan menjadi penulis yang hebat. Dalam bab lain nanti pasti akan aku ceritakan kepada kalian mengenai semuanya itu, dari mainan mesin photocopy-nya yang canggih, shinningsiko-nya sampai bunga-bunga krisannya yang melegenda itu.

Di belakang Siko kita sambut Nobita Ndhut. Entah kenapa, walaupun sebenarnya tidaklah gendhut banget menurut penilaianku, namun panggilannya ndhut. Mungkin lagi-lagi karena image yang sudah terlanjur melekat padanya. Namun dia punya banyak keahlian. Aku pernah bilang kawan, bahwa tiap suatu hal itu ada ahlinya masing-masing. Nah, bicara mengenai makan-makan, traktiran dan oleh-oleh, dialah ahlinya. Selain itu dia dikenal juga sebagai ahlinya narsis, mungkin dia telah menderita penyakit narsis yang akut.

Di barisan berikutnya aku kenalkan kepada kalian, Anas. Kata orang-orang dia mirip Gading Martin. Atau barangkali aku salah denger lagi, Gading Martil mungkin. Entah apapun kata orang Gading Martin atau Gading Martil, yang jelas aku lebih percaya pada kata Pak Heru kalau dia lebih mirip Gading Martin, namun setelah Gading Martin kecelakaan. Dia dikenal sebagai playboy, juga karena image yang diciptakan sendiri. Walaupun sudah mati-matian merubah image itu, namun sulit karena sudah terlanjur melekat. Bahkan kata orang, bawaan semenjak lahir tampangnya pun tampang playboy. Sudah aku bilang kawan, untuk merubah image di Humas itu sangat sulit. Dan aku beri tahu kawan, bahwa untuk menjadi seorang playboy itu tidak harus bertampang cakep ataupun berkantong tebal. Kalau ingin tahu rahasianya mungkin nanti kita kan mengadakan seminar dan mengundang Anas sebagai pembicaranya. Satu lagi mengenai Anas yang tak kalah menarik untuk diceritakan, dia itu menjunjung tinggi petuah orang tua jaman dulu: “Le, yen nggolek jodho kuwi gatekna bibit, bebet dan bobot”.

Selanjutnya kita hadirkan endahhh (ingat, h-nya tiga). Dia bloger juga dengan Cerita Seorang Biasa-nya. Pasti kalian kenal. Karena begitu terkenalnya bila ditanya “Siapa sih yang nggak kenal dengan Cerita Seorang Biasa?” Pasti akan dijawab dengan pertanyaan “Emang siapa yang kenal Cerita Seorang Biasa?” dengan nada intonasi yang satu oktaf lebih tinggi. Bukan begitu ndahhh, maksudnya mereka aja yang belum baca Cerita Seorang Biasa, kalau sudah baca pasti mereka akan ketagihan untuk membaca tulisan selanjutnya. Ya bolehlah, suatu saat nanti pasti akan aku ajak kalian mengunjungi Cerita Seorang Biasa, kalau diijinkan oleh empunya blog tentunya.

Di deretan berikutnya ada Luluk. Menulis adalah hobinya. Transkrip dia jagonya. Apapun yang bisa dia tulis, akan dia rubah jadi tulisan. Rekaman wawancara yang durasinya lebih dari dua jam, dalam waktu sehari mampu ia rubah jadi tulisan, yang mungkin bila aku yang disuruh ngerjain satu minggu pun tak akan selesai. Diantara kami dialah penulis blog yang paling produktif walau tidak banyak yang mengetahuinya. Dia juga penulis cerpen yang berbakat.

Selanjutnya ada citra. Kata orang, bila ketemu citra kesan pertama begitu menggoda. Selanjutnya, memang benar dia tipe wanita penggoda. Pokoknya dalam cerita ini citra itu digambarkan sebagai seorang wanita yang cantik dan anggun. Namun, satu permintaanku kawan: tolong kalian jangan tanya aslinya.

Di deret terakhir aku kenalkan kepada kalian, lholob. Sebenarnya namanya cukup bagus: Muhammad Adib Sulhan. Tetapi dia lebih suka kalau dipanggil lholob. Entah kenapa, pasti ada sejarahnya tersendiri.